FITUR CERAMAH MINGGUAN

Syukur kepada Allah

Betapa lebih baiknya jika semua dapat lebih sadar akan pemeliharaan dan kasih Allah serta menyatakan rasa syukur itu kepada-Nya.
PESAN PEMIMPIN AREA ASIA

Sukacita dari Kebangkitan

Melalui kebangkitan-Nya, Juruselamat menyatakan bahwa Dia telah mengatasi kematian. Semua yang Dia ajarkan adalah kebenaran dan apa yang Dia janjikan akan terpenuhi.
Penatua
Joseph Chung
Share to Linkedin Share to Google 
> MormonTV
> Pustaka Media OSZA
-----
Kami menyediakan
Kitab Mormon
secara cuma-cuma
Api Unggun Sejarah Keluarga

Api Unggun Sejarah Keluarga
Bersama Elder & Sister Gibb

Oleh: Sri Anon

Jutaan dari kami menanti di sini,
Untuk melangkah kami tak bisa.
Tiada pengharapan bagi kami menanti bertahun-tahun,
Kalian manusia tak tahu.
Betapa banyak kekecewaan dan kesedihan untuk beberapa roh,
Yang namanya dilewatkan!

Doa dan harapan-harapanku telah mendapatkan upah pada akhirnya.
Seorang bocah memiliki namaku di daftarnya.
Aku berharap dia menerima upahnya.

Dan oh... untuk sukacita ini, tak ada manusia yang tahu,
Bahwa mereka telah mengirimkan ke rumah Tuhan.
Aku hanyalah satu nama, diantara timbunan kartu.

Itulah sepenggal syair yang dipresentasikan pada api unggun bersama Elder dan Sister Gibb, Misionaris Pasutri yang mengunjungi Jakarta pada tanggal 1 Oktober 2011. Kunjungan mereka dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai misionaris yang melayani di Area Asia, dalam bidang Sejarah Keluarga. Para misionaris dan  beberapa anggota lingkungan dua Jakarta menyajikan presentasi sejarah keluarga dan pekerjaan bait suci yang mengesankan.

Dalam sebuah presentasi, mereka mewakili jutaan roh yang sedang menunggu uluran tangan para anggota Gereja yang masih hidup di bumi ini untuk melaksanakan tatacara-tatacara bagi mereka di bait suci. Yaitu: Pembaptisan, pemberkahan, pemeteraian bersama keluarga terkasih mereka untuk menjadi keluarga kekal. Bahkan ada diantara mereka yang telah menunggu ..., menunggu ..., menunggu ..., dan berharap. Ada diantara mereka, misalnya Lycurgus Thompson, yang telah meninggal ratusan tahun yang lalu, yang setiap kali datang ke bait suci melihat pembaptisan, dan berharap seseorang mewakili dia untuk dibaptiskan; tetapi harus selalu kembali dengan kecewa karena tidak mendapati namanya diantara nama-nama yang dilaksanakan tatacaranya. Tetapi banyak juga yang lebih beruntung mendapati namanya telah dilaksanakan tatacaranya di bait suci. Misalnya Elisabeth Jones, dan dia bersuka cita, “Yes!” katanya.

Karenanya, mari kita kerjakan sejarah keluarga kita dan melakukan tatacara-tatacara keselamatan bagi mereka yang telah meninggal. Mereka tidak dapat menjadi sempurna tanpa kita dan kita tidak dapat menjadi sempurna tanpa mereka.

“.....Keluarga dapat kekal s’lamanya, dengan rencananya. Ku ingin selalu, bersama k’luargaku ..., Tuhan t’lah tunjukkan caranya, Tuhan, tunjukkan caranya.....”. (Nyanyian Rohani no. 142, Ajaran dan Perjanjian 138:47-48).