|
Api Unggun Sejarah Keluarga Bersama Elder & Sister Gibb Oleh: Sri Anon 
Jutaan dari kami menanti di sini, Untuk melangkah kami tak bisa. Tiada pengharapan bagi kami menanti bertahun-tahun, Kalian manusia tak tahu. Betapa banyak kekecewaan dan kesedihan untuk beberapa roh, Yang namanya dilewatkan! Doa dan harapan-harapanku telah mendapatkan upah pada akhirnya. Seorang bocah memiliki namaku di daftarnya. Aku berharap dia menerima upahnya. Dan oh... untuk sukacita ini, tak ada manusia yang tahu, Bahwa mereka telah mengirimkan ke rumah Tuhan. Aku hanyalah satu nama, diantara timbunan kartu.
Itulah sepenggal syair yang dipresentasikan pada api unggun bersama Elder dan Sister Gibb, Misionaris Pasutri yang mengunjungi Jakarta pada tanggal 1 Oktober 2011. Kunjungan mereka dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai misionaris yang melayani di Area Asia, dalam bidang Sejarah Keluarga. Para misionaris dan beberapa anggota lingkungan dua Jakarta menyajikan presentasi sejarah keluarga dan pekerjaan bait suci yang mengesankan.

Dalam sebuah presentasi, mereka mewakili jutaan roh yang sedang menunggu uluran tangan para anggota Gereja yang masih hidup di bumi ini untuk melaksanakan tatacara-tatacara bagi mereka di bait suci. Yaitu: Pembaptisan, pemberkahan, pemeteraian bersama keluarga terkasih mereka untuk menjadi keluarga kekal. Bahkan ada diantara mereka yang telah menunggu ..., menunggu ..., menunggu ..., dan berharap. Ada diantara mereka, misalnya Lycurgus Thompson, yang telah meninggal ratusan tahun yang lalu, yang setiap kali datang ke bait suci melihat pembaptisan, dan berharap seseorang mewakili dia untuk dibaptiskan; tetapi harus selalu kembali dengan kecewa karena tidak mendapati namanya diantara nama-nama yang dilaksanakan tatacaranya. Tetapi banyak juga yang lebih beruntung mendapati namanya telah dilaksanakan tatacaranya di bait suci. Misalnya Elisabeth Jones, dan dia bersuka cita, “Yes!” katanya.

Karenanya, mari kita kerjakan sejarah keluarga kita dan melakukan tatacara-tatacara keselamatan bagi mereka yang telah meninggal. Mereka tidak dapat menjadi sempurna tanpa kita dan kita tidak dapat menjadi sempurna tanpa mereka.
“.....Keluarga dapat kekal s’lamanya, dengan rencananya. Ku ingin selalu, bersama k’luargaku ..., Tuhan t’lah tunjukkan caranya, Tuhan, tunjukkan caranya.....”. (Nyanyian Rohani no. 142, Ajaran dan Perjanjian 138:47-48).
|